IMG-20220426-WA0025
507d7483
rino 2
jepitu
sidoharjo
kemadang
20220420_092859_0000_copy_1004x364
jpg_20220417_122805_0000_copy_1004x364
bal
jumiran
jpg_20220424_111119_0000_copy_1600x900
20220425_203738_0000_copy_1600x900_copy_1024x364
IMG-20220427-WA0025
IMG-20220429-WA0003_copy_1600x900

Perjuangan Seorang Ibu, Membesarkan Anak Penderita Down Sindrown Hingga Menjadi Anak Berbakat. 

Bantul,(suara-gunungkidul.com)–Evi (44) seorang ibu rumah tangga harus berjuang merawat dan membesarkan putri semata wayangnya. Kidung Sariro Ayu, gadis belia usia 6 tahun tersebut tak seperti anak pada umumnya.
Kidung divonis oleh Dokter menderita Down Sindrown . Evi yang di dampingi sang suami dengan sabar merawat dan melatih Kidung agar menjadi anak yang bisa seperti anak yang lain.
 
Ketika Kidung didiagnosa kelainan down syndrom, Dengan keadaan pasrah aku terima kenyataannya.  Dengan dukungan suami, dia menyusun berbagai rencana yang mampu dia dan suami lakukan untuk terus mendidik dan menjadikan Kidung sosok hebat. Seluruh kesibukan yang saya jalani selama ini , saya tinggalkan untuk merawat dan mendidik anak.
 
Setelah Kidung Sariro Ayu di diagonosa Down Sindrown, Ayu harus rutin terapi selama dua kali dalam seminggu.
Bagi sebagian orang, tidur di pagi hari adalah suatu kenikmatan, namun tidak untuk Evi. Pagi buta  Evi harus  menembus dinginnya Kota Yogyakarta untuk mendaftarkan terapi anak kesayanganya di RS Sardjito. Jarak antara rumah sakit dan rumah tempat tinggal yang lumayan jauh, belum lagi antri di Rumah sakit yang begitu lama.
 
Evi mengambil nomor antrian kemudian pulang kembali. Begitulah rutinitasnya selama 3 tahun. Sepertinya biasa saja  namun sulit dilakukan untuk orang biasa. Menyiapkan dan mengurus keperluan suami untuk berangkat kerja. Sekitar pukul 07 WIB, Evi harus kembali ke Rumah Sakit Sarjito untuk pendaftaran.
 
“Seperti itulah rutinitas saya, dalam melakukan proses terapi untuk anak saya selama 3 tahun ini, Dan Alhamdulillah Seluruh perjuangan itu tidak sia-sia karena pertumbuhan dan perkembangan anak saya selalu mengalami peningkatan.  Kidung dengan kekurangannya mampu menyetarai anak-anak sebayanya. Saya dan suami terus merasa terdorong untuk terus mendukung dan melakukan segala yang terbaik untuk Kidung,” kisahnya 
 
Perkembangan Kidung yang terus meningkat pesat tidak mengurungkan rencana Evi untuk menghentikan terapi, Evi tetap mengikutsertakan terapi Okupasi dan terapi perilaku di salah satu Dokter praktek.
 
Saat itu Evi memasukkan sekolah anaknya Kidung dari usia 2.5 tahun. Evi melakukan ini dengan tujuan untuk mengenalkan kepada Kidung dalam bersosialisasi lebih awal dan Evi ingin semua orang bisa menerima Kidung dengan segala kekurangannya. Sejak hari itu Evi memiliki antusiasme yang tinggi untuk membawa anaknya berproses, berkembang dan berkarya.
 
Evi melihat dan memantau setiap kegiatan yang dilakukan oleh anaknya. Suatu ketika Evi menemukan hobby coret-coret Kidung di kertas. Saya berfikir dalam hati,
 
“kalau hanya di kertas maka akan dibuang sia-sia, lalu kenapa tidak di buat karya yang bermanfaat buat nanti dimasa depan anak saya,” lanjutnya.
 
Akhirnya Evi memberikan anaknya media berupa kain, kuas, dan malam. Dengan itu, anaknya menciptakan karya berupa coretan batik kuwas dan ciprat. Evi tidak berhenti hanya sampai situ saja dalam menggali bakat anaknya. 
 
Semua hasil gambar tersebut dicetak di kaos dan sekarang sudah ada kaos hasil karya anaknya. Tidak hanya kaos tapi juga topi dan masker. 
 
Berbagai event yang telah Kidung lewati bersama sang bunda membuat  Evi memiliki jaringan yang semakin luas. Berkat hal tersebut pula, dengan izin Allah karya Kidung sudah dikenal oleh banyak orang. Hingga beberapa karyanya diminati oleh pejabat pemerintah, bahkan hingga luar pulau Jawa. 
 
“Saya berharap dengan segala usaha saya untuk membimbingnya anak saya bisa mandiri, berproses dan terus berkarya tanpa batas,” tutupnya.
 
Evi Berpesan kepada masyarakat secara umum, cintailah mereka tanpa syarat. Mereka selalu membawa kebahagiaan dengan cara mereka sendiri. Tiada makhluk yang sempurna dan bagi orang tua, jangan putus asa semua akan tercapai selagi kita berusaha dan sabar.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

BACA JUGA