IMG_20220813_081313_copy_715x315
IMG_20220814_231753_copy_715x315
IMG_20220814_222054_copy_715x315
IMG_20220815_001804_copy_715x315
IMG_20220819_075457_copy_715x315

Dipercaya Permohonan Diijibah, Masjid Sunan Kalijaga Girikarto Disakralkan Warga Sekitar

Panggang,(suara-gunungkidulcom.com)– Masjid Sunan Kalijaga, yang terletak di Padukuhan Doplang , Kalurahan Girkarto Kapanewon Panggang, ternyata peninggalan Sunan Kalijaga. Bahkan menurut informasi, masjid tersebut lebih tua di bandingkan dengan masjid Sunan Kalijaga yang ada di Padukuhan Blimbing, Kalurahan Girisekar.

Konon cerita turun temurun warga, masjid Sunan Kalijaga yang ada di Girikarto adalah masjid yang diskralkan oleh warga setempat dan ketika musim kemarau panjang masjid tersebut dijadikan tempat untuk meminta permohonan hujan oleh warga sekitar.

Lurah Girikarto Sumardiyono saat ditemui membenarkan jika masjid tersebut masih disakralkan oleh masyarakat setempat. Masjid Sunan Kalijaga ini juga terkenal sebagai tempat untuk memohon kepada yang Maha Kuasa jika akan memiliki hajat tertentu.

“Saya sendiri membuktikannya. Sebelum pilihan lurah kemarin saya sowan ke sana dan memanjatkan doa di sana. Dan alhamdulillah dikabulkan,”tuturnya.

Masjid Sunan Kalijaga merupakan tempat Pinuwunan (memanjatkan doa) agar hajatnya terkabul. Salah satunya adalah masyarakat 6 padukuhan di Kalurahan Girikarto di antaranya Dawung, Wiloso Pundung, Karang, Beduk dan Doplang masih menggelar upacara agar segera turun hujan ketika kemarau berlangsung cukup lama.

Mereka akan menggelar upacara kenduri ayam ingkung yang diletakkan di dalam Pengaron. Masing-masing padukuhan membawa 1 paket ayam ingkung dan setelah berdoa, makanan tersebut dibagi dan kemudian dinikmati bersama.

“Biasanya tak lama langsung hujan,”papar dia.

Pengaron memang menjadi ciri khas masjid tersebut karena sebelum direnovasi, kubah masjid tersebut hanyalah pengaron yang dipasang terbalik untuk menutup ujung atap masjid. Namun usai dipasang kubah dari aluminium, pengaron tersebut kini masih diletakkan di atas tempat imam berdiri (pengimaman).

Tak banyak yang mengetahui kisah masjid Sunan Kalijaga tersebut. Terlebih juru kunci tersebut belum lama meninggal dan berganti juru kunci yang baru sehingga kisah tentang masjid tersebut hanya berdasarkan yang mereka dengar saja.

“Saya sedikit banyak tahu karena diceritain oleh kakek buyut dulu,”ujar dia.

Berdasarkan cerita kakek buyutnya, Sumardiyono menuturkan masjid tersebut awalnya didirikan oleh Sunan Kalijaga di tepi sungai dan kini sungainya telah hilang. Pada suatu ketika seluruh Kalurahan Girikarto terbakar. Meski jarak antar rumah kala itu masih berjauhan, namun semuanya terbakar.

Anehnya yang tidak terbakar hanyalah masjid dan sebuah kentongan besar yang terbuat dari kayu. Kentongan tersebut digunakan oleh salah seorang warga untuk bersembunyi dari kobaran api. Dan orang tersebut selamat dari amukan si jago merah.

“Saat kebakaran itu kubahnya secara ghaib berpindah ke masjid di Kalurahan Girisekar sana,”tutur dia.

Masjid tersebut memang dikenal sebagai tempat Pinuwunan. Bahkan awalnya masjid tersebut tidak ada yang berani menjamahnya. Warga masih menganggap masjid tersebut sebagai tempat yang wingit (angker) dan hanya digunakan ketika melakukan ‘pinuwunan’.

Dulu, ygdi bawah salah satu tiang bagian kiri belakang terdapat gundukan bekas pembakaran menyan. Namun belum lama ini atau sejak masjid direnovasi gundukan bekas bebakaran menyan tersebut dihilangkan. Meski terkadang masih ada yang datang melakukan ‘pinuwunan’ namun mereka membakar menyan dengan alas bekas genteng ataupun cobek.

“Sesekali masih ada yang bakar menyan. Tapi sekarang langsung dibuang bekas bakaran menyannya,”terang dia.

Namun kini, masjid tersebut sudah banyak digunakan untuk kegiatan keagamaan masyarakat. Meskipun masih ada yang menganggap wingit namun masjid tersebut sudah menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat.

Sementara itu Takmir Masjid Sunan Kalijaga Doplang, Sumardini menambahkan, sebelum di renovasi, bangunan masjid ini hanya seluas 8×8 meter. Namun oleh masyarakat kemudian bangunan masjid tersebut diperluas dengan menambah srambi dan teras.

Awalnya tinggi tiang hanya 3,5 meter dengan bentuk bangunan mirip joglo. Sehingga dengan bangunan ciri khas Gunungkidul maka tinggi dinding hanya 2,5 meter dan tinggi pintu hanya 2 meter. Kondisi ini disebut tidak ideal sehingga perlu diganti dengan yang lebih tinggi.

“Kalau bangunan lama itu rendah banget. Kurang lega rasanya kalau digunakan untuk sholat,”tambahnya.

Awalnya, masjid Sunan Kalijaga Doplang ini hanyalah berdinding anyaman bambu dan lantai dari tanah yang berdebu. Namun seiring dengan kesadaran masyarakat, masjid tersebut secara bertahap dilakukan renovasi.

“Sekarang sudah dijadikan kegiatan keagamaan rutin, termasuk TPA anak anak,” tutupnya.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

BACA JUGA