IMG_20220813_081313_copy_715x315
IMG_20220814_231753_copy_715x315
IMG_20220814_222054_copy_715x315
IMG_20220815_001804_copy_715x315
IMG_20220819_075457_copy_715x315

Ramai Tolak Pembangunan Icon Tugu Tobong, Wakil Rakyat Gunakan Hak Interplasi

Playen, (suara-gunungkidul.com)–
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul tetap akan mengganti patung Tukang Kendang di Bundaran Siyono, Kalurahan Logandeng, Kapanewon Playen. Sebelumnya penggantian patung tersebut mendapat penolakan dari sejumlah
elemen warga maupun kalangan legeslatif. Jajaran DPRD Gunungkidul Bakal Menggunakan Hak Interplasinya l.

Wakil Ketua DPRD Suharno menyoroti sejumlah polemik rencana pembangunan Icon Tugu Tobong Gamping yang nekat dilanjutkan oleh Dinas Pekerjaan Umum Kawasan Perumahan dan Permukiman (DPUPRKP) Kabupaten Gunungkidul itu. Dari awal rencana pembangunan tersebut pihak DPRD diakui Suharno tidak pernah diajak berembug.

“Kami tanyakan ke pihak Kepolisian kaitannya dengan rekayasa jalan ternyata tidak ada komunikasi. Jadi itu single figther,”tuturnya saat Jumpa Pers dengan wartawan di Hotel Santika Kalurahan Logandeng, Kapanewon Playen, Minggu (25/09/2022).

Dinas Pekerjaan Umum Kawasan Perumahan dan Permukiman (DPUPRKP) Kabupaten Gunungkidul berencana mulai mengerjaan wajah kota pada tanggal 19
September 2022. Tahap 1 akan dikucurkan anggaran sesuai nilai kontrak sebesar Rp
7.687.876.000. Salah satu pengerjaan yang dilakukan adalah mengganti patung ikon masuk Kota Wonosari di Bundaran Siyono. Patung Tukang kendang akan diganti dengan tobong Gamping, kemudian patung lama akan dipindahkan di Pasar Sumber Rejeki Playen yang berada di Jalan Manthous.

“Publik Gunungkidul dan juga DPRD mempertanyakan ide Tugu Tobong yang dinilai nihil makna filosofis. Tobong itu simbul kegiatan ekstraktif sehingga bertolak-belakang dengan upaya optimalisasi Bentang Alam Geopark,”terangnya saat jumpa pers dengan awak media.

Suatu bangunan icon disebutnya harus memiliki makna yang kontektual dengan kondisi obyektif potensi kekinian yang menjadi asset sosial ekonomi daerah,
dan juga harus memiliki konteks masa depan. Selain itu, icon daerah harus menjadi kebanggaan warga.

“Meski pembangunan itu ranah eksekutif, bukan berarti arogan semaunya pimpinan.
Pembangunan daerah, terlebih membangun fisik icon daerah tidak boleh mengabaikan
partisipasi publik. Dalam kasus ini, DPRD sebagai lembaga yang mewakili rakyat Gunungkidul saja tidak dimintai pendapat, apalagi warga masyarakat secara luas,”terangnya.

Dalam kasus ini, sangat Suharno efektivitas dari pembangunan Tugu Tobong.
Akankah akan menjadi kebanggaan warga, akankah mendukung visi destinasi wisata berkelas dunia dan Akankah mendorong perekonomian daerah.

“Dari banyak aspek, tetap dibangunnya Tugu Tobong ini sangat sembrono dan menabrak
arus kehendah publik dan nihil aspiratif. Pada posisi ini, DPRD pada April 2022 sudah
memberikan rekomendasi untuk membatalkan penggantian Patung Tukang Kendang tersebut, sehingga kalau ini tetap diganti maka DPRD tidak akan ikut bertanggungjawab atas
akuntabilitas dan efektivitas pembangunan tugu Tobong tersebut,”tandasnya.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

BACA JUGA