IMG_20220813_081313_copy_715x315
IMG_20220814_231753_copy_715x315
IMG_20220814_222054_copy_715x315
IMG_20220815_001804_copy_715x315
IMG_20220819_075457_copy_715x315

Penyakit Tuberkolosis Capai Ratusan Kasus, Dinkes Beberkan Cara Pengobatannya

Playen, (suara-gunungkidul.com)–Angka kasus penyakit menular Tuberkolosis (TB) di Kabupaten Gunungkidul tercatat mencapai ratusan pada tahun 2021 lalu. Jumlah ini diklaim mengalami penurunan lantaran adanya pandemi Covid-19.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul Dewi Irawaty membeberkan, terkait ciri-ciri seseorang yang terjangkit penyakit TB. Yang paling mencolok, menurut Dewi penderita TB ini menderita batuk-batuk yang tak kunjung sembuh selama lebih dari dua Minggu.

“Secara fisik tubuh penderitanya mengalami penurunan berat lantaran kurangnya nafsu makan. TB juga dapat menyerang paru-paru, tulang, atau kulit, tapi yang paling banyak kasusnya adalah TB paru-paru,” katan Dewi di Taman Budaya Gunungkidul (TBG) Siyono Wetan, Logandeng, Kapanewon Playen, Rabu (30/03/2022).

Menurutnya, Indonesia menempati urutan ke-3 temuan kasus TB terbanyak di dunia. Sementara di Gunungkidul sendiri, pada 2021 lalu ditemukan sebanyak 266 kasus TB, yang mana hampir semuanya sudah dinyatakan sembuh.

Dewi menilai terus terjadinya masalah penyakit TB ini karena disebabkan lamanya proses pengobatan hingga stigma negatif yang melekat pada penderitanya. Pengobatan TB pun juga harus dijalankan secara rutin.

“Pengobatan dilakukan minimal selama 6 bulan tapi kalau bakterinya sudah resisten, pengobatan bisa sampai setahun setengah,”imbuh Dewi.

Pengobatan pasien TB difasilitasi secara gratis oleh pemerintah. Namun Dewi tak menampik biayanya tinggi lantaran harga obat-obatannya terbilang mahal, terutama untuk penanganan resisten. Dia berharap stigma negatif tentang TB berkurang. Sebab karena stigma tersebut masyarakat umumnya enggan bahkan malu untuk memeriksakan diri ketika ada gejala TB, seperti batuk lebih dari 2 minggu.

“Perlu dukungan dari masyarakat agar penanganan TB bisa berjalan lebih optimal,” ujarnya.

Di kesempatan yang sama Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM), Dinkes Gunungkidul, Diah Prasetyorini mengungkapkan, kasus TB di Gunungkidul mengalami penurunan antara 2020 dan 2021 lalu.

“Kalau 2020 penemuan kasus TB sampai 26 persen, 2021 lalu hanya 12 persen,” katanya.

Menurut Diah warga yang bergejala TB pun enggan memeriksakan diri karena takut akan didiagnosa terpapar Covid-19. Selain itu, mereka juga khawatir akan terpapar penyakit lain saat datang ke fasilitas kesehatan (faskes) terdekat.

“Belum lagi stigma TB yang masih negatif di masyarakat, dan bisa berdampak pada kehidupan sosial-ekonomi penderitanya,”imbuhnya.

Berdasarkan data yang dimiliki, pada 2021 lalu terdapat 266 kasus TB yang ditemukan. Menurutnya, hampir semua kasus yang ditemukan ini sembuh setelah menjalani pengobatan.

Sedangkan di 2022 ini, Diah mengaku belum ada data rinci. Pasalnya diperlukan proses validasi setiap 3 bulan sekali.

“Jadi untuk 2022 ini, data kasus TB bisa dikatakan belum ada,” ujarnya.

Sementara itu Bupati Gunungkidul Sunaryanta juga mengatakan banyak masyarakat yang belum sepenuhnya memahami tentang TB. Kondisi tersebut memicu munculnya stigma negatif pada penderitanya. Bulati menilai edukasi tanpa henti perlu dilakukan. Kolaborasi dengan masyarakat dalam penanganan TB pun sangat diperlukan untuk memudahkan proses deteksi.

“Ini bukan semata-mata tugas dari pemerintah daerah saja, karena ini sifatnya kepentingan bersama,”pungkasnya.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

BACA JUGA