Strategi Bisnis Pelaku UMKM Kerajinan Tangan TOTEBAG Dimasa Pandemi, Pedagang Pasar Bringharjo

Yogyakarta,(suara-gunungkidul.com)—Wabah corona virus SARS-CoV-2 saat ini penyakit virus corona 2019 sebelumnya 2019-nCoV, berpusat di Provinsi Hubei, Republik Rakyat Tiongkok, telah menyebar ke banyak negara lain. Pada 30. Januari 2020, Komite Darurat WHO mendeklarasikan keadaan darurat kesehatan global berdasarkan peningkatan tingkat pemberitahuan kasus di lokasi China dan internasional. 
 
Tingkat deteksi kasus berubah setiap hari dan dapat dilacak hampir secara real time di situs web yang disediakan oleh Johns Hopkins University 1 dan forum lainnya. Hingga pertengahan Februari 2020, Cina menanggung beban morbiditas dan mortalitas yang besar, sedangkan insiden di negara-negara Asia lainnya, di Eropa dan Amerika Utara sejauh ini masih rendah.
 
Sampai tanggal 5 Oktober 2021, Indonesia telah melaporkan 4.221.610 kasus positif menempati peringkat pertama terbanyak di Asia Tenggara. Dalam hal angka kematian, Indonesia menempati peringkat ketiga terbanyak di Asia dengan 142.338 kematian. Namun, angka kematian diperkirakan jauh lebih tinggi dari data yang dilaporkan lantaran tidak dihitungnya kasus kematian dengan gejala Covid-19 akut yang belum dikonfirmasi atau dites. Sementara itu, diumumkan 4.049.449 orang telah sembuh, menyisakan 29.823 kasus yang sedang dirawat. 
 
Pemerintah Indonesia telah menguji 26.963.512 orang dari total 269 juta penduduk, yang berarti hanya sekitar 100.012 orang per satu juta penduduk. Sebagai tanggapan terhadap pandemi, beberapa wilayah telah memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pada tahun 2020. Kebijakan ini diganti dengan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) pada tahun 2021.
 
Pandemi Covid-19 megakibatkan krisis kesehatan dan mengganggu aktivitas ekonomi nasional. Namun, sejumlah indikator menunjukkan pemulihan ekonomi nasional pada triwulan IV/2020 dan triwulan I/2021. Salah satu upaya pemulihan ekonomi nasional adalah mendorong sektor UMKM yang memiliki kontribusi penting dalam perekonomian nasional. Kasus ini mengkaji kondisi UMKM terdampak pandemi Covid-19 serta upaya pemerintah dalam memulihkannya. Pandemi Covid-19 berdampak negatif pada sektor UMKM yang menyebabkan para pelakunya harus beradaptasi antara lain dengan menurunkan produksi barang/jasa, serta jumlah saluran penjualan/pemasaran. 
 
Membaiknya angka penyebaran virus Covid-19 dan adanya program vaksinasi, telah menumbuhkan optimisme bagi para pelaku UMKM pada tahun 2021. Dalam memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi, pemerintah melakukan berbagai kebijakan untuk memulihkan sektor UMKM yaitu penyaluran PEN bagi sektor UMKM, program Gernas BBI, program vaksinasi, restrukturisasi kredit, dan rencana pembentukan holding BUMN ultra mikro. DPR RI perlu mendukung pemerintah dalam memulihkan sektor UMKM agar momentum pertumbuhan ekonomi tahun 2021 ini dapat terwujud. 
 
Penyebaran virus corona (Covid-19) secara global, masih terus bertambah dari hari ke harinya. Pandemi ini mempunyai pengaruh yang sangat signifikan di berbagai tatanan kehidupan manusia saat ini. Pelarangan dan pembatasan sosial dijadikan slogan sebagai peringatan bersama bahwa wabah ini mempunyai perkembangan penyebaran yang sangat masif. 
Pembatasan bersekala besar mempunyai dampak yang cukup baik dalam waktu relatif lama berdampak positif dari segi kesehatan, namun hal ini berbanding berbalik dengan keadaan perekonomian masyarakat. 
 
Sejumlah tenaga kerja sebagian harus kehilangan pekerjaan, pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) terutama berkala mikro tak lagi memiliki modal untuk usaha, penutupan UMKM sebagi dampak tak langsung dari perbatasan bersekala besar dan stay at home membuat UKM terpuruk karena tidak dapat melakukan usaha dan modal terpakai untuk keperluan sehari-hari. UMKM merupakan pilar terpenting dalam perekonomian Indonesia. 
 
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah UMKM saat ini mencapai 64,2 juta dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 61,07% atau senilai 8.573,89 triliun rupiah. Pandemic covid-19 berdampak pada perubahan tatanan kehidupan social serta menurunnya kinerja ekonomi bagi sebagian besar negara di dunia. Perekonomian Indonesia juga mengalami dampak signifikan, berbagai usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) merasakan kemacetan bisnis. Hasil dari survei asosiasi business Development sevices Indonesia, total 6.000 UMKM yang disurvei, 26% diantaranya mengalami penurunan aktivitas bisnis hingga lebih dari 60% selama pendemi. Adapun, UMKM yang tidak dapat berbisnis sama sekali mencpai 36,7% dari total responden. 
 
Dilansir dari pemilik UMKM yakni toko “Totebag Suminto” yang berada dipasar Bringharjo Yogyakarta bahwa kondisi disaat pandemi covid-19 sangat tidak signifikan dikarenakan omset yang menurun, Selain itu Suminto pun mengatakan penjualan saat ini mengalami ketidakstabilan, oleh sebab itu Suminto menerapkan strategi seperti ”pandemi harus dihadapi dengan melakukan beberapa hal agar bisnis kita bisa bertahan bahkan tumbuh, yaitu dengan cara inovasi produk sebagai suatu proses penciptaan gagasan, pengembangan dari suatu keterbaruan, dan pengenalan suatu produk baru, proses atau pelayanan kepada masyarakat, yang dapat digunakan atau mendorong terjadinya perubahan-perubahan di segala aspek kehidupan masyarakat, mempersiapkan diri untuk skenario terburuk, sameday delivery layanan pesan antar untuk lebih memudahkan konsumen dalam berlangganan, memanfaatkan e-commerce dan fitur fiturnya, mulai sekarang manfaatkan kecanggihan media sosial untuk menjangkau pasar guna memasarkan produk lebih luas lagi. Selain itu, penting pula diketahui bahwa dalam menggunakan media sosial, para penggunannya menyukai hal visual. Oleh karena itu untuk memanfaatkan rasa tertarik audiens, maka kami membuat  promosi bisnis dalam bentuk visual, bukan hanya mengedukasi namun menginspirasi konsumen.
 
Selain itu Suminto pun menerapkan keterampilan baru untuk tetap bisa berjalan dan bertahan usahanya dimasa pandemi covid-19 dengan cara kreatif dan memanfaatkan celah, memahami peluang yang ada.
 
“Saya harus cermat dalam meminimalisir waktu, kapan waktu yang tepat dan kapan waktu terbaik meluncurkan promo khusus, serta harus memfokuskan kepada pelanggan yang sudah ada dan pelanggan tetap kemudian saya harus mampu berkomunikasi dan menjalin relasi dengan orang lain karena dengan adanya komunikasi akan mempermudah peluang bisnis yang kami jalani saat ini kemudian saya gunakan metode pemasaran digital karena diera modern seperti sekarang memudahkan konsumen untuk menjangkau produk yang kami jual,” terang Suminto.
 
Belajar tentang bertahan dalam bisnis pada masa pandemi ini harus sabar dan melihat peluang dahulu kemudian kami harus memeriksa terlebih dahulu modal yang cukup besar untuk tetap bertahan, berjalan dan mengakuisisi membeli salah satu produk tambahan dari produk yang sudah ada karena keuntungan ini akan menghasilkan nilai yang sangat besar, jangan gegabah dan mudah tergiur oleh hal hal yang kelihatanya sangat mudah dan cepat menguntungkan.
 
Ia berharap pandemi ini dapat segera berakhir sehingga roda perekonomian bisa kembali pulih. Sebagai pelaku usaha pak Suminto juga meminta kepada pemerintah untuk terus memperhatikan sektor UMKM agar dapat terus bertahan. Sementara itu, ujar bapak Suminto yang merupakan salah satu pelaku UMKM yang berada di pasar Bringharjo Yogyakarta menuturkan bahwa untuk menentukan harga atau memperoleh keuntungan yang cukup agar bisa menumbuhkan pelaku UMKM apalagi dalam kondisi pandemi seperti sekarang.
 
 
Artikel Oleh : Eva Latifatul Azizah
Mahasisiwi Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa Yogyakarta
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

BACA JUGA

banner8