IMG-20220426-WA0025
507d7483
rino 2
jepitu
sidoharjo
kemadang
20220420_092859_0000_copy_1004x364
jpg_20220417_122805_0000_copy_1004x364
bal
jumiran
jpg_20220424_111119_0000_copy_1600x900
20220425_203738_0000_copy_1600x900_copy_1024x364
IMG-20220427-WA0025
IMG-20220429-WA0003_copy_1600x900

Perkosa Anak Kandung, Warga Semin Ngandang di Penjara

Semin, (suara-gunungkidul.com)–Seorang warga Kapanewon Semin berinisial S terancam penjara belasan tahun. Pria paruh baya itu melakukan aksi bejat yakni memperkosa anak kandungnya yang masih duduk di bangku SMP. Saat ini pelaku ditahan di Mapolres Gunungkidul untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Hal ini diungkapkan oleh Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Gunungkidul Ipda Ratri. Dia membeberkan bahwa S diamankan berdasarkan laporan Polisi pada 4 November 2021 lalu. Dimana pelapor tak lain adalah ibu Bunga (bukan nama sebenarnya).
Mendapatkan laporan penyidik kemudian melakukan penyelidikan.

“Kami kemudian melakukan penyelidikan dengan memeriksa sejumlah saksi dan korban,”kata Ratri saat ditemui, Rabu (19/01/2022).

Pada saat pemeriksaan dilakukan, Bunga mengakui bahwa dia telah dicabuli oleh ayah kandungnya sendiri. Bunga mengaku telah dicabuli sebanyak 2 kali. Oleh ayah kandungan itu Bunga sempat diancam agar tidak menceritakan kejadian tersebut kepada orang lain.

Namun demikian karena tidak tahan dengan perlakuan ayahnya itu, Bunga kemudian mengadukan ke ibunya. Menurut Ratri, pemerkosaan tersebut dilakukan S di rumah saudaranya yang berdekatan dengan rumah nenek korban.

“Kalau untuk korban sendiri mengaku sudah 2 kali dicabuli oleh bapak kandungnya itu (S). Setelah semua bukti kuat, tanggal 21 Desember 2021 lalu kami telah lakukan penangkapan terhadap S,”terangnya

S sendiri ditangkap di kediaman orang tuanya. Dalam pemeriksaan dilakukan oleh petugas, S sempat tidak mengakui perbuatan. Namun kemudian, lantaran ada bukti-bukti yang angat kuat sehingga proses hukum tetap berlanjut. Pada saat memperkosa anak kandungnya itu, S dalam kondisi mabuk.

“Dia memang pemabuk. Sebanyak 2 kali pencabulan itu jaraknya tidak lama, hanya sekitar 1 bulan saja,” jelas Ratri.

“Ibu korban dengan bapaknya ini memang sudah lama cerai. Jadi hanya sesekali ketemu kalau ke rumah neneknya itu dan terjadilah pencabulan ini. Untuk pendampingan psikologi tetap dilakukan, korban juga dalam kondisi baik,”imbuhnya.

Menurut Ratri, selama ini tidak ada iming-imimg apapun. Kemudian tidak ada ancaman baik fisik ataupun verbal. Dalam proses pemeriksaan, S sempat berkelit namun atas saran jaksa kemudian polisi mendatangkan ahli dan alat tes poligraf atau uji kebohongan untuk mengetahui secara pasti.

Saat ini kasus tersebut sudah masuk pada tahapan P-19 dan sebentar lagi akan dilimpahkan ke Kejaksaan. Adapun pelaku disangkakan pasal 81 sub 82 UU nomor 17 Tahun 2016 dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

BACA JUGA