IMG_20220813_081313_copy_715x315
IMG_20220814_231753_copy_715x315
IMG_20220814_222054_copy_715x315
IMG_20220815_001804_copy_715x315
IMG_20220819_075457_copy_715x315

Takut Air Belik Kering dan Mati, Warga Branjang menolak Kayu Ratusan Tahun Ditebang Oleh Pedagang Kayu

Karangmojo,(suara-gunungkidul.com)– Kisruh penebangan pohon Munggur yang berada di perbatasan wilayah Padukuhan Branjang dan Karang Talun, Kalurahan Ngawis, Kapanewon Karangmojo antara warga dan pedagang kayu yang sudah merasa membeli terus berlanjut.

Warga sempat bersitegang dengan pedagang kayu yang akan menebang pohon Munggur yang diperkirakan berusia ratusan tahun. Warga merasa keberatan jika kayu Munggur ini ditebang, karena menurut mereka, dibawahnya ada belik atau sumur tua yang airnya masih digunakan untuk mengairi sawah.

Rasyid salah satu tokoh Padukuhan Branjang dan juga ketua LPMP setempat mengaku, apabila kayu Munggur tersebut benar – benar ditebang sumur atau belik dibawahnya akan mengering dan mati, Rasyid juga mengaku apabila kayu Munggur yang sudah berusia ratusan tahun berdiri dan tumbuh di atas tanah yang berstatus Sultan Ground(SG). Dibawahnya ada sumur tua yang dikenal sebagai sumber Setro. Rasyid kemudian menceritakan, awal dari sengketa atau perebutan hak dari pohon Munggur yang diperebutkan antara warga dan pedagang kayu.

“Kami khawatir jika pohon ditebang, sumber air dibawahnya akan mati dan mengering,” kata Rasyid,saat ditemui di rumahnya, 09/04/2022.

Persoalan ini muncul saat warga akan membangun tugu Lar Badak, lanjut Rasyid pada saat itu warga kekurangan dana, sehingga ada usulan agar pohon Munggur dijual saja untuk membangun tugu. Dan pada saat itu pak Toni salah satu warga Branjang memberikan uang 7 juta agar pohon tidak ditebang, biarkan pohon berdiri sampai mati sendiri.

“Jadi begini, di tahun 2005, kami membuat tugu Lar Badak perbatasan wilayah dusun, karena pohon tumbuh di perbatasan dua dusun, maka Padukuhan Branjang dan Karang Talun sama – sama merasa memiliki pohon ini,dan saat itu pak Toni memberikan uang 7 juta agar pohon tidak ditebang, membiarkan pohon berdiri sampai mati sendiri,” lanjut Rasyid.

Setelah menerima uang 7 juta dari pak Toni, masih kata Rasyid uang itu dibagi Tiga, Padukuhan Branjang mendapat 3 juta, Karang Talun 3 Juta dan Kalurahan Ngawis 1 juta. Selanjutnya uang itu digunakan warga untuk pembangunan, termasuk menyelesaikan pembuatan tugu Lar Badak. Saat itu tidak ada akad jual beli terhadap pohon, pak Toni hanya berpesan agar pohon jangan ditebang biar sampai mati sendiri.

“Saksinya warga banyak yang sedang kerja bakti tidak ada akad jual beli, dan surat resmi dalam bentuk apapun,” tambahnya.

Seiring berjalanya waktu usaha pak Toni bangkrut dan mengalami kesulitan keuangan, sehingga pak Toni menjual pohon Munggur ke seorang pedagang kayu dari Wonosari bernama Pak Sis seharga 42 juta. Hal itu terjadi sekitar tahun 2016 silam, lanjut Rasyid, lalu oleh pak Sis pohon itu kembali dijual dan laku 60 juta.

Sebelum kejadian beberapa hari lalu, hal ini juga pernah terjadi pada tahun 2018, akan tetapi banyak warga yang memprotes dan menghalang- halangi, sehingga penebangan gagal. Ternyata polemik belum berakhir, pedagang kayu datang lagi untuk menebang, bahkan dua dahan sudah dipotong dan berserakan dibawah pohon.

Kemarin pagi, lanjut Rasyid mendengar suara Cainsow yang sedang menebang pohon, warga datang dan berkerumun kembali untuk mencegah penebangan, warga dan penebang sempat bersitegang. Pedagang kayu juga sempat memperlihatkan surat jual beli yang ditanda tangani pak Toni, tapi dokumen itu tidak lengkap banyak blako yang kosong tidak diisi.

“Karena status tanah adalah milik Sultan Ground, kami mempertanyakan surat ijin penebangan dari keraton, kata mereka akan segera mengurusnya dan besok akan kembali lagi bersama pihak keraton,” tutup Rasyid.

Senada dengan Rasyid, salah satu tokoh pemuda Padukuhan Branjang Hasyim merasa sangat khawatir jika pohon ini ditebang. Hasyim menyebut bahwa pohon yang terletak di pintu masuk dusun dan sebagai ikon Padukuhan Branjang sumber air dibawahnya akan mati.

“Sayang kalau ditebang, lagian itu kan pohon bersejarah, kami juga baru merancang dan merencanakan Padukuhan Branjang menjadi desa wisata, jika pohon itu ditebang tentu salah satu yang akan kami jadikan ikon akan hilang,” singkatnya.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

BACA JUGA