Dimediasi Bupati, Konflik Warga Grogol VS Panitia Pembangunan Kantor GKJ Klasis Menemui Jalan Buntu

Wonosari, (suara-gunungkidul.com)–Mediasi antara warga masyarakat Padukuhan Grogol 1, Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo dan panitia pembangunan Kantor GKJ Klasis menemui jalan buntu. Kedua belah pihak dimediasi oleh Bupati Gunungkidul Sunaryanta dan Forum Kerukunan Antar Umat Beragama Kabupaten Gunungkidul di Ruang Rapat handayani Sekretaris Daerah Kabupaten Gunungkidul, Kamis (17/06/2021).

Seluruh warga masyarakat Padukuhan Grogol 1 tetap berkeinginan lokasi kantor GKJ Klasis itu direlokasi dari wilayahnya. Pihak Klasis ditengarai tidak menggunakan etika sebagai orang jawa saat proses mencari Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

Salah satu pihak Klasis Pendeta Iwan dalam mediasi membeberkan, panitia akan membangun kantor Klasis itu dengan memiliki nilai – nilai jawa. Hal ini dilakukan untuk menjunjung tinggi nilai jawa dalam karya pelayanan bidang sosial dan budaya.

“Yang kami lakukan sifatnya lebih kepada pelayanan. Kalaupun
Kemarin ada hal dirasa tidak mengenakan bagi kita semua, mungkin kita perlu memohon maaf, “ujarnya, Jumat (18/06/2021).

Sementara itu tokoh warga masyarakat Padukuhan Grogol 1 Suwargito menyampaikan, pendirian kantor GKJ Klasis sendiri ditolak warga atas dasar dan alasan yang kuat. Tak hanya Klasis saja, Suwargito mengatakan seluruh warga masyarakat Padukuhan Grogol 1 juga sangat menjunjung tinggi azas dan nilai sebagai orang jawa. Warga menilai apa yang disampaikan pihak Klasis justru berbanding terbalik dengan apa yang terjadi sesungguhnya.

“Kaitannya dengan nilai jawa (wong jowo) kalau kita tarik ulang kebelakang, pihak panitia pembangunan klasis mengutus sodara Rebito waktu itu yang meminta tanda tangan IMB tidak dijelaskan secara jelas. Kalau kejawennya tinggi, ya minta tanda tangannya datang ke rumah. Namun dia meminta tanda tangan ditempat orang meninggal (waktu takziah),”kata Sueargito.

Pihak warga sendiri menyanyangkan lantaran dari awal proses pencarian IMB tidak transparan dan terkesan kucing – kucingan.

“Dia (Rebito) juga tidak menjelaskan secara gamblang kegunaan minta tanda tangan ke bu Sayem untuk apa. Ini bisa dibuktikan, ngakunya minta tanda tangan hanya sebagai batas sebagai tanah dan tidak menjelaskan kegunaan untuk Kantor Klasis,”imbuhnya.

Sementara itu Dukuh Grogol 1 Agung Waluyo menyampaikan, berbagai alasan sudah disampaikannya baik tertulis maupun lisan, baik pertemuan yang lalu dan sebelumnya.

“Sudah saya sampaikan kepada bapak Bupati untuk itu kami warga sangat berharap mudah – mudahan teman – teman dari klasis memahami dan dengan legowo merelokasi dari wilayah kami,”terangnya.

Bupati Gunungkidul Sunaryanta saat dimintai keterangan mengaku bakal mempertemukan kedua belah pihak kembali secara spesifik. Hal tersebut dilakukannya supaya nantinya apa yang disampaikan baik pihak warga dan GKJ Klasis lebih terbuka.

“Kami merasakan dari pertemuan mediasi ada yang belum klop.
Mudah – mudahan kedua belah kedepan ada titik kesepakatan,”kata Sunaryanta.

Konflik antara pihak panitia pembangunan kantor GKJ dan warga masyarakat Padukuhan Grogol 1, Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo terjadi sejak tahun 2016 lalu. Penolakan terjadi lantaran dalam proses pencarian IMB dianggap tidak transparan. Selain itu panitia ternyata juga tidak melakukan sosialisasi (kulo nuwun) terlebih dahulu kepada warga.”

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

BACA JUGA

banner8