IMG-20220426-WA0025
507d7483
rino 2
jepitu
sidoharjo
kemadang
20220420_092859_0000_copy_1004x364
jpg_20220417_122805_0000_copy_1004x364
bal
jumiran
jpg_20220424_111119_0000_copy_1600x900
20220425_203738_0000_copy_1600x900_copy_1024x364
IMG-20220427-WA0025
IMG-20220429-WA0003_copy_1600x900
iklan

Berpacu Dengan Lonjakan Baru, Relay Vaksinasi Terus Digencarkan

Tanjungsari, (suara-gunungkidul.com)–Penuntasan vaksinasi Covid 19, selain terus digencarkan dalam rangka percepatan wilayah rendah dan membentengi warga akibat pelonggaran kegiatan masyarakat demi recovery ekonomi, kini juga harus berpacu dengan terus munculnya kasus-kasus baru Covid yang kian meningkat. Oleh karenanya, relay vaksinasi berbagai tempat dilakukan guna memastikan warga terlindungi.

Tim Percepatan Penuntasan Vaksinasi (TPPV) Gunungkidul, meliputi Satgas Covid, Dinas Kesehatan (Dinkes), dan Tim Mobile Vaksin BIN DIY, terus berbagi peran dalam gerak percepatan penuntasan. Selain terus menggenjot wilayah capaian vaksin rendah, Tim juga berbagi konsentrasi pada wilayah rawan kerumunan hingga perbatasan.

Koordinator TPPV Gunungkidul, yang juga Kasi P2P Dinkes, Sugondo, menyatakan, di saat agenda vaksinasi difokuskan kepada wilayah capaian rendah dan masyarakat yang masih menggelar Upacara Bersih Desa (Rasulan), TPPV juga harus berbagi fokus di wilayah perbatasan dan titik kerumunan guna mencegah adanya transmisi virus dari kuar.

“Sebenarnya Tim Vaksinasi masih fokus menuntaskan peningkatan wilayah rendah Booster dan masyarakat yang masih menggelar Rasulan, namun dengan adanya peningkatan kasus tinggi di luar Gunungkidul, termasuk Gunungkidul yang akhir-akhir ini terus ada penambahan kasus, Tim harus berbagi juga di wilayah perbatasan dan potensial kerumunan. Wilayah Semin, Ngawen, Patuk, Rongkop, Panggang, dan sepanjang pantai seperti Tanjungsari harus dilakukan perkuatan”, kata Sugondo saat memimpin relay vaksin di Ngawen dan Rongkop, dan Tanjungsari, Kamis (4/8/2022).

Pengendalian virus Covid di wilayah capaian rendah dan masyarakat sebelum menggelar kegiatan massal, serta penyangga wisata Pantai agar ekonomi tetap bertumbuh, lanjut Sugondo, sudah menjadi komitmen Tim agar pengendalian wabah ini efektif. “Apalagi indikasi lonjakan kasus baru juga kembali mengancam, maka kita berbagi peran dan tidak under estimate dengan ancaman tersebut. Baik dari luar maupun dari Gunungkidul sendiri. Karena itulah penebalan di wilayah perbatasan dan potensial kerumunan harus bersamaan dengan yang lain”, jelasnya.

Perwakilan BIN DIY di Gunungkidul, Eko Susilo, membenarkan bahwa BIN turut serta mendukung pemerintah Gunungkidul dalam melonggarkan pelaksanaan iven-iven komunal sebagai langkah percepatan kebangkitan ekonomi warga di masa Pandemi. Namun demikian tetap merekomendasikan agar antisipasi penyebaran Covid baru, khususnya wilayah potensial penyebaran virus, seperti perbatasan dan penyangga obyek wisata tetap tidak diabaikan.

“Sejak minggu lalu, kami membersamai iven komunal yang banyak tergelar dan dibuka cukup longgar. Namun dengan ditemukannya kasus positif baru dalam 2 minggu terakhir, BIN kembali mendorong Satgas Covid waspada dengan kode lonjakan Covid varian baru tersebut. Oleh karenanya, syarat vaksin, khususnya Booster, di setiap iven yang melibatkan massa banyak dan penuntasan di wilayah sekitar obyek wisata harus terus digencarkan. Utamanya waspada di perbatasan dan wilayah penyangga obyek wisata”, kata Eko saat menggelar vaksinasi di Ngawen dan Tanjungsari.

Wahyu Suhendri, Lurah di kalurahan Ngestirejo kapanewon Tanjungsari menyambut baik gelaran vaksinasi yang diselenggarakan BIN bersama Dinkes di wilayahnya. “Kami gerak cepat saat wilayah Tanjungsari dinyatakan sebagai salah satu wilayah rendah vaksin Boosternya. Terlebih Ngerstirejo disinggung menjadi kalurahan terendah. Terima kasih sekali ini BIN kerso mendampingi,” ungkap Hendri.

Saat Ngestirejo dianggap rendah, lanjutnya, kita kumpulkan semua dukuh untuk pemetaan. “Dari pemetaan yang kita lakukan, percepatan vaksin kita bagi menjadi 2 zona. Wilayah utara meliputi padukuhan Cabean, Mendang 1, 2 dan 3, serta Selatan menyasar Jaten, Mrica, Kerjo, kudu, Gatak 1-2, Walikangi, hingga Bruno 1 dan 2. Hasilnya, saat ini capaian vaksin kita sudah 82 persen dosis 1 dan 2, serta dengan hari ini diharapkan sudah di atas 30 persen untuk dosis 3. Jika tidak salah hari ini menjadi tertinggi di Tanjungsari”, harapnya.

Senada dengan Lurah Ngestirejo, Kepala Puskesmas Tanjungsari, Suwarso, membenarkan bahwa usai dipanggil paparan di Satgas Covid kabupaten, Penewu langsung turun hingga kalurahan mengumpulkan semua pamong dukuh dan kader tingkat padukuhan.

“Seluruh perangkat sudah dipanggil dan bersepakat untuk memulai bangkit. Bahkan disepakati, seluruh layanan administrasi di kapanewon dan juga di Polsek, serta kalurahan harus melampirkan kartu vaksin. Dengan cara begitu, tampak hasilnya. Saat di Kemadang kurang tampak, “pemanggilan” diterapkan, hasil mulai tampak di Hargosari dan Ngestirejo hari ini. Capaian bisa 300-600 orang perhari”, papar Warso.

Cara yang sama, lanjutnya, akan diterapkan di kalurahan tersisa di Banjarejo dan Kemiri, untuk selanjutnya kembali ke Kemadang. “Sukses di Hargosari dan Ngestiirejo akan direplikasi di gelaran vaksin selanjutnya. Harapannya Tanjungsari terlepas dari wilayah capaian rendah”, tutupnya.

Ery Agustin, Anggota Komisi D DPRD Gunungkidul (Dapil V wilayah Tanjungsari dan sekitarnya) mengapresiasi langkah BIN yang memprovokasi hingga turun di wilayah capaian rendah. “Salut ini dengan langkah BIN. Monggo warga yang belum vaksin lengkap segera hadir di vaksinasi. Jangan sampai vaksin sebelumnya dropp out dan harus mengulang. Dengan penuntasan vaksinasi, nantinya warga bisa bebas beraktivitas tanpa takut lagi dengan virus Covid yang masih ada, sehingga perekonomian cepat tumbuh”, dukungnya.

Sebagaimana diketahui, saat ini kasus baru Covid kembali banyak melanda di berbagai wilayah. Di kabupaten Gunungkidul, sejak 26 Juli, kasus harian selalu ada positifnya. Bahkan 3 hari terakhir ada penambahan di atas 2 kasus baru. Sementara untuk vaksin Booster, hingga saat ini masih terhenti di angka 31,85 persen. Masih belum cukup aman untuk membentengi diri dari serbuan varian baru. Apalagi syarat minimal transisi pandemi menuju endemi dipatok capaian minimal 50 persen.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

BACA JUGA