IMG-20220426-WA0025
507d7483
rino 2
jepitu
sidoharjo
kemadang
20220420_092859_0000_copy_1004x364
jpg_20220417_122805_0000_copy_1004x364
bal
jumiran
jpg_20220424_111119_0000_copy_1600x900
20220425_203738_0000_copy_1600x900_copy_1024x364
IMG-20220427-WA0025
IMG-20220429-WA0003_copy_1600x900
iklan

Jeritan Pedagang Kecil Buka Malam Hari Ditengah PPKM

Semanu, (suara-gunungkidul.com)–Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) oleh Pemerintah membuat sejumlah Usaha Kecil Menengah (UKM) kelimpungan. Dampak dari kebijakan tersebut mengakibatkan penghasilan pelaku usaha menurun drastis.

Kebijakan PPKM diketahui untuk menekan laju penyebaran Covid-19 di Pulau Jawa dan Bali, tak terkecuali di Kabupaten Gunungkidul. Apalagi saat ini jam operasional kegiatan pelaku usaha dibatasi hanya sampai pukul 19.00 WIB.

Kondisi tersebut tentunya dianggap para pelaku usaha semakin menjerit. Hal tersebut terjadi lantaran belum adanya solusi pemulihan ekonomi ditengah kebijakan PPKM.

Seperti yang diungkapkan oleh salah satu pelaku usaha Bakmi Jawa di Kalurahan Semanu, Kepanewon Samanu bernama Sugeng. Pembatasan jam operasional berdagang para pelaku usaha baik toko maupun warunf makan hingga pukul 19.00 membuatnya pusing.

“Kalau mau menerapkan aturan seharusnya jangan pandang bulu. Warung kecil – kecil seperti kami harus dibatasi melayani tamu, sedangkan pasar hewan, karaoke bebas buka berkerumun,” ujar Sugeng geram, Jumat (22/01/2020).

Dia mengaku bahwa beberapa waktu lalu lokasonya menjajakan bakmi jawma di Jalan Wonosari – Semanu KM 4.5 Nitikan sempat didatangi oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP). kedatangan para petugas itu tidak lain untuk menghimbau dan menyampaikan surat Intruksi Bupati Gunungkidul tentang PPKM.

“pedagang khususnya Bakmi Jawa bukanya pasti malam. Kalau hanya melayani hingga pukul 19.00 WIB jelas membuat penghasilan kami semakin terpuruk saat kondisi pandemi Covid-19,”terangnya.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

BACA JUGA