Harga Impor Tinggi, P4S Amulat Panen Kedelai

Playen, (suara-gunungkidul.com)–
Pada saat ini kedelai menjadi permasalahan utama di Indonesia karena ketersediaan komoditas kedele yang kurang dan tergantung impor . Pada Rakernas Pertanian di Jakarta (Senin, 11 Januari 2021) Presiden Jokowi memberikan arahan untuk Kementerian Pertanian agar dapat mengatasi kurangnya produksi beberapa komoditas yang masih impor seperti Bawang Putih, Daging Sapi, Gula, Kedelai dan Jagung.

Sejalan dengan kebijakan pusat, Kabupaten Gunungkidul telah berupaya menggalakan penanaman kedelai baik di musim hujan maupun musim kedua dan musim kemarau. Selasa (12/01/2021) Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya P4S Amulat Kalurahan Bleberan melaksanakan panen perdana kedele jenis Dega-1.

Kepala Dinas Pertanian Dan Pangan Kabupaten Gunungkidul Bambang Wisnu Broto mengatakan bahwa, varitas kedelai Dega-1 merupakan kedelai unggul hasil persilangan kedelai jenis Grobogan dan jenis Malabar. Kedelai Dega-1 mempunyai usia panen selama 70 hari, berbiji besar, dengan potensi hasil 3,1 ton per hektar.

“Jenis kedelai baru ini dapat disukai para petani. Kami apresiasi P4S yang panen di Kalurahan Bleberan mengawali musim panen kali ini,”kata Bambang, Rabu (13/01/2021).

Sementara itu pengelola P4S Amulat Sumari melaporkan, luas kedelai yang di panen 1 hektar merupakan kebun percontohan P4S Amulat. Hasil ubinan dari Kedelai Dega-1 menunjukkan hasil 2,8 ton berat polong atau jika dikonversi menjadi 1,55 ton wose.
Menurutnya hasil tersebut memang belum optimal dikarenakan ditanam secara tumpangsari dengan jagung dan ubi kayu.

“Meski demikian secara pendapatan akan lebih tinggi karena masih mendapat hasil dari jagung dan ubi kayu. Apalagi saat ini kedelai konsumsi mencapai harga RP 10.000 per Kg,”imbuhnya.

Dikesempatan yang sama petugas POPT Kapanewon Playen Sujaka membeberkan, beberapa tahun belakangan ini penanaman kedelai tidak mengalami gangguan hama dan penyakit. Hal tersebut dikarenakan para petani menerapkan prinsip prinsip PHT (Pengendalian Hama Terpadu) dengan mengurangi pestisida kimia dan menggalakan pestisida hayati ramah lingkungan.

“Sehingga musuh alami dapat berkembang dan terjadi keseimbangan populasi, hama pun tidak merugikan karena populasi terkendali oleh musuh alami yang ada,”katanya.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

BACA JUGA