IMG_20220813_081313_copy_715x315
IMG_20220814_231753_copy_715x315
IMG_20220814_222054_copy_715x315
IMG_20220815_001804_copy_715x315
IMG_20220819_075457_copy_715x315

Menelisik Asal Usul Makam Raja – raja Di Yogyakarta

 

Yogyakarta,(suara-gunungkidul.com)–
Makam raja-raja mataram yang terletak disebuah bukit di Kalurahan Girirejo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul dibangun oleh Raden Jatmiko atau warga biasa menyebutnya Sultan Agung Prabu Hanyakrokusumo. Dia adalah Raja Kerajaan Mataram Islam yang ke 3.

Pada tahun 1632 dengan arsiteknya Tumenggung Citrokusuma, makam Imogiri dipilih
dengan cara melemparkan tanah dari Arab. Kemudian tanah tersebut jatuh di bukit Imogiri, maka pada saat Prabu Hanyokrokusumo wafat dia dimakamkan di wilayaj tersebut. Tanah di pemakaman itu kemudian sampai saat ini berbau harum dan wangi.

Begitu sekelumit awal cerita dari Juru kunci Raden Ngabei Haji Wongso Hastono ketika ditemui di Pemakaman Raja – raja Imogiri.
Ngabei Haji menceritakan bahwa
bukit Imogiri nama aslinya adalah Himogiri, Himo artinya kabut dan Giri artinya gunung. Karena bukit ini dulu sebelum untuk pemakaman selalu dipenuhi dengan kabut bahkan saat musim kemarau.

Hingga kini makam Raja raja mataram ini masih dijaga dan dikeramatkan. Tidak sembarang orang bisa memasuki kompleks makam tersebut. Ada persyaratan khusus untuk bisa masuk ke area makam, diantaranya tidak boleh memakai alas kaki, harus memakai pakaian adat jawa berupa blangkon, baju kurung pranakan, dan kain panjang untuk laki-laki. Sementara itu perempuan harus memakai kemben dan kain panjang. Bagi perempuan yang punya rambut panjang harus digelung malang atau gelung tekuk.

“Yang baru halangan (datang bulan) tidak diperkenankan masuk. Diluar persyaratan tersebut pengunjung hanya bisa sampai di sekitar makam,”kata Mbah Ngabei.

Kebudayan adat dan tradisi disini tidak pernah ditinggalkan. Juru kunci Raden Ngabei Haji Wongso Hastono mengungkapkan bahwa, mereka percaya meski para leluhur sudah meninggal. Meskipun demikian masih terdapat roh roh waliyullah di dunia sehingga disimpulkan hanya beda alam saja yaitu alam dunia dan alam kubur.

“Sedo (meninggal) iku namung ten alam kubur urung neng alam akhirat, neng alam akhirat iku besok nek kiamat,”katanya.

Sebelum pandemi pengunjung selalu ramai bahkan hingga ratusan setiap harinya. Berbagai tujuan yang mereka lakukan ada yang hanya penasaran dengan tempat makam raja-raja, ziarah, berolahraga disekitaran tangga, ataupun meminta – minta.

Dari segi Agama hal minta – minta adalah perbuatan musyrik dan tidak dibenarkan, namun hingga saat ini masih banyak orang yang melakukan perbuatan musyrik tersebut. Kebudayaan adat dan tradisi yang dilakukan di makam Imogiri disebut berbeda dengan hal – hal musyrik tersebut.

“Ada tujuan yang lain seperti minta-minta, nah ini yang keliru. Seharusnya kita meminta itu hanya pada yang maha kuasa, dan istilahnya lewat beliau para leluhur kita mengambil berkah atau wasilahnya,”terangnya.

Abdi Dalem Mas Lurah Windarno Ngiromongso menjelaskan bahwa suatu tradisi yang dilakukan itu diniatkan untuk menghormati para leluhur dan pemimpin terdahulu serta meminta doa restu keberkahan kepada para waliyullah bukan untuk meminta-minta dan menyembahnya.

Menurutnya Agama dan kebudayaan menjadi hal penting untuk pembangunan Indonesia, terlebih bagi karakter anak bangsa. Namun seiring berjalannya waktu dengan perkembangan zaman hal ini sulit ditanamkan dalam negeri ini.

“Sekarang begini saja anak-anak sekarang saja sudah banyak yang meninggalkan leluhur, banyak yang tidak tahu tentang nenek moyangnya. Banyak anak muda yang mengikuti trend mengikuti zaman sehingga mereka lupa akan adat istiadat,”katanya.

Penulis : Isti Aisyah & Mayyasya Canda Awal Karispatma
(Mahasiswa STAIYO)

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

BACA JUGA